Puisi-Puisi Sapardi DJoko Damono

Bali, 19/07/2020 – Kabar duka datang dari dunia sastra Indonesia. Salah satu penyair senior Indonesia, Sapardi Djoko Damono dikabarkan telah meninggal dunia hari ini, 19 Juli 2020. Kabar ini tentu meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia, terutama para penikmat sastra yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pada usia 80 tahun, Sapardi meninggalkan banyak puisi-puisi yang sangat fenomenal. Berikut puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.

Yang Fana Adalah Waktu

yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.

1978

Baca Juga:Cara Mendaftarkan Usaha Ke Google Maps tahun 2020

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

1989

 Baca Juga:Hari Emoji Sedunia (17 Juli), Begini Asal Usulnya

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

 

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

 

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

Baca Juga:Belajar Bahasa Inggris Gratis Online Disini!

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,

Jasadku tak akan ada lagi,

Tapi dalam bait-bait sajak ini,

Kau tak akan kurelakan sendiri.

 

Pada suatu hari nanti,

Suaraku tak terdengar lagi,

Tapi di antara larik-larik sajak ini.

 

Kau akan tetap kusiasati,

 

Pada suatu hari nanti,

Impianku pun tak dikenal lagi,

Namun di sela-sela huruf sajak ini,

Kau tak akan letih-letihnya kucari.

Baca Juga:Belajar Bahasa Inggris Gratis Online Disini!

Hanya

Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar

dan tak pernah kaulihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana

 

Hanya desir angin yang kaurasa

dan tak pernah kaulihat angin itu

tapi percaya angin itu di sekitarmu

 

Hanya doaku yang bergetar malam ini

dan tak pernah kaulihat siapa aku

tapi yakin aku ada dalam dirimu

 Baca Juga:Menghasilkan Uang dari Video di Facebook

Sajak Kecil Tentang Cinta

Sajak Kecil Tentang Cinta

 

Mencintai angin harus menjadi siut

Mencintai air harus menjadi ricik

Mencintai gunung harus menjadi terjal

Mencintai api harus menjadi jilat

 

Mencintai cakrawala harus menebas jarak

 

Mencintai-Mu harus menjelma aku

Sementara Kita Saling Berbisik

sementara kita saling berbisik

untuk lebih lama tinggal

pada debu, cinta yang tinggal berupa

bunga kertas dan lintasan angka-angka

 

ketika kita saling berbisik

di luar semakin sengit malam hari

memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa

unggun api

sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.

1966

Sumber: website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *